Mitos Militerisme pada Busana Kampanye (Analisis Semiotika Roland Barthes Busana Kampanye Agus Harimurti Yudhoyono–Sylviana Murni)

Dudi Hartono, Riyan Hidayatullah

Abstract


ABSTRACT

The importance of fashion campaigns in the process of political communication in Indonesia has gained its own spotlight over the years. Clothing is seen to have an artifactual communication function as a political statement, or at least the image the user wants to display. So the meaning of dressing the contestants was faced with a variety of public interpretations. As Kris Budiman explained clothing has an ambiguous double face. On one side, the face of the dress looks attractive and seductive. Conversely, on the other hand, clothing also have the meaning of falsehood as well as deceive (Budiman, 2004). AHY -SYLVI campaign campaign is modeled, or at least inspired, from military tactical uniforms, AHY institution originated before deciding to participate in Jakarta 2017 Regional Head Election. Agus Harimurti Yudhoyono calls his campaign uniform with TactiCool term. A very entertaining and slang term. Blend the actual term Tactical (Tactical) and Cool (Cool). Moreover, then the design of the sergam was made body-fit body fitting alias that makes the clothes look more fashionable. By choosing a black color and sticking emblems here and there make the clothes feel very army-look.  To examine the AHY-SYLVI campaign uniform and the various embedded symbols, the authors use the Roland Barthes Semiotics analysis approach. Barthes's perspective on this myth becomes one of its semiological traits that opens up the new realm of semiology, that is, further excavations of marking to achieve the myths that work in the daily reality of society. This is what the authors of Roland Barthes's semiotics theory say is more appropriate in the choice of AHY-SYLVI fashion or uniform campaign as a particular symbol.

 

Keywords: AHY; Semiotics; campaign fashion; Army Look;  Roland Barthes

 

ABSTRAKSI

Pentingnya pernanan busana kampanye dalam proses komunikasi politik di Indonesia telah mendapatkan sorotan tersendiri selama ini. Pakaian dipandang memiliki fungsi komunikasi artifaktual sebagai pernyataan politik, atau setidak-tidaknya citra yang ingin ditampilkan oleh pemakainya. Sehingga makna berbusana para kontestan pun berhadapapan dengan tafsir publik yang beragam. Seperti dijelaskan Kris Budiman busana punya wajah ganda yang ambigu. Di satu sisi, wajah busana tampak menarik dan menggoda. Sebaliknya, di sisi lain, busana juga punya makna kepalsuan sekaligus mengelabui (Budiman, 2004). Busana kampanye AHY –SYLVI mencontoh, atau setidak-tidaknya terinspirasi, dari seragam taktikal militer, institusi AHY berasal sebelum memutuskan terjun dalam kontstasi Pilkada DKI Jakarta 2017. Agus Harimurti Yudhoyono menyebut seragam kampanye-nya dengan istilah TactiCool. Sebuah istilah yang sangat entertaining dan gaul. Memadukan istilah sebenarnya Tactical (Taktis) dan Cool (Keren). Apalagi kemudian desain sergam itu dibuat body-fit alias pas badan yang membuat baju itu terlihat lebih modis. Dengan memilih warna hitam dan menempelkem emblem di sana-sini membuat baju tersebut tersasa sangat army-look. Untuk mengkaji seragam kampanye AHY – SYLVI berikut berbagai simbol yang melekat di dalamnya, penulis menggunakan pendekatan analisa Semiotika Roland Barthes. Perspektif Barthes tentang mitos ini menjadi salah satu ciri semiologinya yang membuka ranah baru semiologi, yaitu penggalian lebih jauh tentang penandaan untuk mencapai mitos yang bekerja dalam realita keseharian masyarakat. Hal inilah yang menurut penulis pendekatan teori semiotika Roland Barthes lebih tepat dalam pilihan busana atau seragam kampanye AHY – SYLVI sebagai sebuah simbol tertentu.

 

Kata Kunci: AHY; Semiotika; busana kampanye; Army Look; Roland Barthes


Full Text:

PDF

References


Arifin, A. (2011). Komunikasi Politik. Yogyakarta: Graha Ilmu.

_______ (2014). Politik Pencitraan – Pencitraan Politik. Graha Ilmu.

Yogyakarta

Barnard, M.(2012). Fashion Sebagai Komunikasi. Yogyakarta: Jalasutra,

Barthes, R. (2007) Petualangan Semiologi. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

_________(2012) Elemen-Elemen Semiologi. Yogyakarta: Jalasutra

_________ (2015) Mitologi, Yogyakarta: Kreasi Wacana

Bourdieou, P. (2007). Menyingkap Kuasa Simbol. Yogyakarta: Jalasutra

Budiman, K. (2011). Komunikasi Visual: Konsep, Isu dan Problem

Ikonsitas, Bandung: Jalasutara.

Budiawan DR.(2014) Nation dan Nasionalisme, Ombak, Jakarta

Bungin, B. (Ed.) (2015). Metodologi Penelitian Kualitatif: Aktualisasi Metodologis ke Arah Varian Kontemporer. Jakarta: Rajawali Grafindo Persada.

Fiske, John (2016), Pengantar Ilmu Komunikasi. Jakarta: Rajawali Pers,

Littlejoh, Stephen W, Karen A. Foss, Jamdan, M.Y. (trans). Teori Komunikasi. Jakarta: Penerbit Salemba Humanika.

Khaelan, MS. (2009) Filsafat Bahasa Semiotika dan Hermeneutika. Yogyakarta: Paradigma,

Moleong, L.J (2014). Metodologi Penelitian Kualitataif Edisi Revisi. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Mulyana, D. (2014) Komunikasi Politik dan Politik Komunikasi. Bandung: Rosda,

Piliang, Y.A, (2012) Semiotika dan Hipersemiotika, Bandung: Matahari

Sobur, A. (2013) Semiotika Komunikasi . Bandung: Rosda.




DOI: https://doi.org/10.29303/jcommsci.v2i2.42

Refbacks

  • There are currently no refbacks.


Copyright of Journal of Media and Communication Science

e-ISSN : 2620-8709

p-ISSN : 2655-4410


Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial 4.0 International License.

JCommsci accredited by :

JCommsci Indexed by :